Home > Umum > 14 April 2012 (dini hari)

14 April 2012 (dini hari)

Dini hari, 14 April 2012. Dua hari terakhir ini perasaan sedih saya kembali memuncak. Ingin rasanya saya berteriak sekeras mungkin, tapi nanti dikira orang gila. Pingin nangis nanti dikira cengeng, lagi pula air mata saya tidak semudah itu mengalir.

Jumat 30 Maret 2012, saya berjanji bertemu dia kampus D, niat saya waktu itu adalah untuk melihat kesiapan dia menghadapi sidang keesokan harinya. Kita berjanji ketemu setelah shalat jumat, saya berangkat sekitar jam 10:30. Hari itu Jakarta diguncang beberapa aksi demo besar, salah satunya di depan gedung MPR/DPR, jalur yang siang itu saya lewati. Saat melintas, masa pendemo sudah cukup banyak sehingga lalu lintas lumpuh di satu arah. Saya sedikit khawatir bagaimana saya nanti pulang. Tapi saya kesampingkan itu, yang penting ketemu dia dulu, lihat bagaimana kesiapannya, sekaligus memberi dukungan semangat terakhir sebelum dia sidang.

Sesampainya di kampus saya langsung menuju masjid karena sudah jam 11:30. Setelah shalat Jumat saya menemuinya di gazebo samping perpus, tempat biasa saya ketemu dia. Saya sedikit terkejut mendapati dia sedang membatu pengerjaan PI/skripsi temannya. Di satu sisi saya kecewa dengan dia, kenapa di saat seperti ini dia malah membantu temannya, bukannya siap-siap buat sidang besok. Di sisi lain saya juga merasa kasihan sama temannya, saya merasakan dia saat itu sangat butuh bantuan.

Alhasil saya hanya bisa diam saja sambil bersandar ke tiang, saya yakin rencana hari itu pasti gagal. Sambil menahan lapar saya tetap menunggu. Akhirnya sekitar jam 14:00 saya pamit untuk pergi sebentar dan akan kembali nanti. Tapi pada kenyataannya saya tidak kembali, melainkan pulang ke rumah. Dengan rasa kecewa yang cukup besar saya mengendarai si biru, mengambil jalan sedikit memutar untuk menghindari demo. Sesampainya di rumah saya hanya menonton demo di tv, berharap ada sesuatu yang menarik, misalnya rusuh😀. Malam hari dia berkata kepada saya supaya tidak datang ke Kenari untuk menemaninya sidang. Mendengar perkataannya malam itu seperti mendengar suara gedelek yang sangat dahsyat. Kecewa bercampur marah saya rasakan, tapi saya coba kontrol. Saya coba pahami alasan dia melarang saya datang, cukup masuk akal memang, tapi terlalu paranoid.

Sudah 6 hari berlalu sejak peristiwa itu. Berarti sudah 6 hari pula saya hidup dengan kesedihan yang cukup mendalam. Setiap langkah saya selalu dibayangi rasa penyesalan dan sedih. Rasa sesak di dalam dada juga tidak berkurang. Sepertinya ini pertama kalinya saya merasakan hal ini. 27 tahun saya hidup di dunia ini, beberapa kali saya merasakan sedih, menyesal dan kecewa. Tapi baru kali ini perasaan-perasaan tersebut seolah membuat saya diam di tempat.

Seminggu ini  dapat dikatakan bukan minggu yang produktif bagi saya. Hampir tidak ada hasil positif berarti yang saya dapatkan. Di kantor saya lebih banyak ngobrol, chating, atau melamun. Saat kuliah juga tidak jauh berbeda, 3 hari saya bolos, saat masuk kelaspun saya sama sekali tidak mendengarkan dosen karena tidak dapat berkonsentrasi. Niat untuk melakukan eksplorasi di rumah tidak terealisasi. Artinya saya sudah membuang minggu ini dengan sia-sia.

Sore tadi saya bertemu teman waktu kuliah S1 dulu. Kami sedikit berbincang karena memang sudah lama tidak bertemu. Dia mengatakan bahwa kuliah matrikulasi itu penting, supaya surat matrikulasinya keluar dan itu nanti dipakai sebagai syarat thesis. Saat saya tanya kepada dia apakah absen untuk mata kuliah matrikulasi penting, dia menjawab penting, justru yang dapat dimain-mainkan itu pada saat kuliah nanti. Jantung saya langsung berdetak lebih kencang, selama ini saya sudah melewati batas absen maksimal, hampir setiap mata kuliah matrikulasi saya banyak bolosnya. Karena teman saya yang lain pernah mengatakan bahwa absen tidak terlalu berpengaruh, yang penting tugasnya. Tugas memang saya tidak pernah ketinggalan, baik kelompok atau individu, tapi bagaimana dengan absennya. Kalau ternyata saat matrikulasi ini absen berpengaruh, berarti saya dalam bahaya besar. Apa jadinya nanti bila saya tidak bisa thesis karena surat matrikulasi saya tidak keluar. Ketakutan sayapun muncul, menambah beban pikiran yang saat ini sudah banyak. Saya hanya bisa berdoa semoga ketidakhadiran saya selama ini di beberapa kuliah matrikulasi tidak berdampak negatif.

Sepertinya saya akan menghadapi beberapa masalah besar di masa depan. Terbayang di pikiran saya seandainya benar absen kuliah matrikulasi ikut diperhitungkan. Bagaimana nasib saya nanti. Saya berharap apabila itu terjadi, ada solusi terbaik yang bisa saya lakukan. Dan saya akan menghadapi semua itu sendirian.

Categories: Umum
  1. No comments yet.
  1. April 14, 2012 at 1:50 pm
  2. April 15, 2012 at 3:45 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: